BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dunia pendidikan erat kaitannya dengan belajar, seorang guru yang
baik adalah guru yang dapat memahami bagaimana peserta didiknya, memahami
situsi dan kondisi lingkungan. Meskipun seorang guru pintar secara kognitif namun
tidak bisa memahami anak didiknya , belajar dikelas tidak akan berhasil.
Seorang murid mempunyai pribadi yang berbeda-beda sehingga
dibutuhkan suatu talenta seorang guru yang mengerti dengan situasi dan
prinsip-prinsip belajar. Dalam belajar terdapat berbagai bentuk belajar,
teori-teori, hukum-hukum dan prinsip-prinsip
belajar, yang menuntut seorang guru harus mengetahui, memahami anak
didiknya, agar pembelajaran berhasil.
Belajar meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik
yang ketiganya harus berjalan seimbang agar belajar tidak pincang dan
menyimpang.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian belajar ?
2.
Bagaimana
bentuk-bentuk belajar?
3.
Apa
prinsip-prinsip belajar?
4.
Apa
teori-teori dan hukum belajar?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk mempelajari tentang teori-teori,
prinsip-prinsip, bentuk dan hukum-hukum belajar yang akan menjadi bekal
persiapan menjadi seorang guru, sehingga setelah membahas makalah ini kita bisa
mengetahui dan mengembangkan serta memahami perkembangan peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Bentuk – Bentuk Belajar
1.
Pengertian Belajar
Kata belajar
secara etimologi merupakan terjemahan dari kata learning (bahasa
inggris)[[1]].
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting
dalam pembentukan pribadi dan prilaku individu.
Para ahli pendidikan berbeda pendapat dengan definisi pendidikan antara
lain[[2]] :
a.
Thompson
(1970) menyebutkan belajar adalah perubahan prilaku yang relative menetap
sebagai hasil dari pengalaman.
b.
Moh.
Surya (1997) menyebutkan, belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh
individu untuk memperoleh perubahan prilaku baru secara keseluruhan, sebagai
hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan
lingkungannya.
c.
Crow
& Crow (1958) menyebutkan belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan,
pengetahuan dan sikap baru.
d.
Hilgard
(1962) menyatakan belajar adalah proses dimana suatu prilaku muncul, prilaku
muncul atau berubah karena adanya respon terhadap suatu situasi.
e.
Sardiman
(2005:47) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku atau
penampilan, dengan serangkaian kegiatan seperti membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
f.
Syah
(2006) berpendapat bahwa belajar adalah tahapan prubahan seluruh tingkah laku
individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Dari beberapa
pendapat para ahli pendidikan diatas terdapat suatu persamaan, yaitu “
perubahan perilaku ”. Jadi dapat dikatakan belajar apabila jika didalamnya
terdapat proses perubahan tingkah laku. Surya (1997) dalam salah satu
tulisannya menyebutkan beberapa ciri dari perubahan perilaku, yaitu sebagai
berikut[[3]] :
a.
Perubahan
yang disadari dan disengaja (intensional)
Perubahan
perilaku individu yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari
individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasilnya, individu tersebut
menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Seperti pengetahuannya
bertambah atau keterampilannya semakin meningkat jika dibandingkan sebelum dia
mengikuti suatu proses belajar.
Misalnya
seorang mahasiswa sedang mempelajari mata kuliah strategi pembelajaran, dia
menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang strategi pembelajaran.
Setelah belajar strategi pembelajaran dia menyadari bahwa didalam dirinya telah
terjadi perubahan prilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang berhubungna dengan strategi pembelajaran.
b.
Perubahan
yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya
pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya adalah merupakan
kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya.
Pengetahuan atau keterampilan yang telah diperoleh menjadi dasar bagi
pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan berikutnya.
c.
Perubahan
yang fungsional
Setiap
perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup
individu yang bersangkutan baik untuk kepentingan sekarang maupun akan datang.
Misalnya seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka
pengetahuan dan keterampilan dalam psikologi dapat dimanfaatkannya untuk
mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan
mengembangkan perilaku peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru
d.
Perubahan
yang bersifat positif
Perubahan
perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menunjukkan kearah kemajuan.
Misalnya seorang karyawan setelah mengikuti pengarahan diperusahaannya, menjadi
lebih berkualitas pekerjaannya.
e.
Perubahan
yang bersifat aktif
Untuk
memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan
perubahan. Misalnya seorang koki ingin membuat resep baru, jadi dia berusaha
melakukan percobaan, penelitian dan sebagainya agar resepnya berhasil.
f.
Perubahan
yang bersifat permanen.
Perilaku yang
diperoleh dari proses belajar cenderung menetap (permanen) dan menjadi bagian
yang melekat dalam dirinya. Misalnya seseorang yang pernah belajar komputer,
maka keterampilan penguasaan computer yang didapatkan akan menetap dan melekat
pada orang itu.
g.
Perubahan
yang bertujuan dan terarah
Individu yang
melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapainya , baik tujuan
jangka pendek dan jangka panjang.
h.
Perubahan
perilaku yang menyeluruh
Perubahan
perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi
termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya.
2.
Bentuk – Bentuk Belajar
Menurut
Muhibbin Syah, bentuk-bentuk belajar yang umum dijumpai dalam proses
pembelajaran antara lain adalah:[[4]]
a.
Belajar
abstrak
Belajar abstrak
adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah
untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.
b.
Belajar
keterampilan
Belajar
keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yaitu
yang berhubungan dengan urat-urat syaraf. Tujuannya adalah untuk memperoleh dan
menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.
c.
Belajar
Sosial
Belajar sosial adalah
belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah
tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam
memecahkan masalah-masalah sosial.
d.
Belajar
Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah adalah belajar menggunakan
metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti.
Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognetif untuk
memecahkan masalah secara rasioanal, lugas, dan tuntas
e.
Belajar
rasioanal
Belajar
rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan
sistematis. Tujuannya ialah untuk memperoleh berbagai kecakapan menggunakan
prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
f.
Belajar
kebiasaan
Belajar
kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan
kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah,
suri tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran.
Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang
lebih tepat dan positif dalam arti selaras secara kontekstual, serta selaras
dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku.
g.
Belajar
apersiasi
Belajar
apersiasi adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek.
Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah
afektif yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai
objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apersiasi musik, dan sebagainya.
h.
Belajar
Pengetahuan
Belajar pengetahuan
adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek
pengetahuan tertentu. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh atau menambah
informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit
dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya.
B.
Prinsip – prinsip dalam belajar
Rothwal (1961) mengemukakan prinsip-prinsip
belajar yang (1961) sebagai berikut[[5]]:
1. Prinsip Kesiapan (Readines)
Proses belajar dipengaruhi
kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan adalah kondisi murid (individu) yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat
berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa
yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami
kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini adalah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar
yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan
seseorang dapat belajar.
Berdasarkan dengan prinsip
kesiapan ini dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
a.
Seorang individu akan dapat
belajar dengan sebaik-baiknya bila tugas-tugas yang diberikan kepadanya erat
hubungannya dengan kemampuan, minat dan latar belakangnya.
b.
Seorang
guru harus bisa mengkaji atau menduga kesiapan muridnya, salah satunya dengan
melakukan tes kesiapan.
c.
Jika seseorang individu kurang memiliki kesiapan untuk sesuatu tugas,
kemudian tugas itu seharusnya ditunda sampai dapat dikembangkannya kesiapan itu atau guru sengaja menata
tugas itu sesuai dengan kesiapan siswa.
d.
Kesiapan untuk belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan, misalnya dua
orang siswa yang memiliki kecerdasan yang sama mungkin amat berbeda dalam pola
kemampuan mentalnya.
e.
Bahan-bahan, kegiatan dan tugas seharusnya divariasikan sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan
psikomotor dari berbagai individu.
2.
Prinsip Motivasi (Motivation)
Tujuan dalam belajar
diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari
pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara
kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan
penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan
bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak.
Berkenaan dengan motivasi
ini ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikanan antara lain
:
a.
Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan
biologi, soaial dan emosional. Tetapi disamping itu ia dapat diberi dorongan
untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini.
- Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha. Pengalaman tentang kegagalan yang tidak merusak citra diri siswa dapat memperkuat kemampuan memelihara kesungguhannya dalam belajar.
- Dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi para siswa. Contohnya seorang murid yang mengharapkan bantuan dari gurunya bisa berubah lebih dari itu, karena kebutuhan emosi terpenuhi daripada karena keinginan untuk mencapai seauatu.
- Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah.
- Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Kegagalan dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi tergantung pada berbagai faktor. Tidak bisa setiap siswa diberi dorongan yang sama untuk melakukan sesuatu.
- Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
- Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku.
- Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar.
- Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan.
- Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan.
- Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi.
3.
Prinsip Persepsi
Persepsi adalah
interpretasi tentang situasi yang hidup. Persepsi dapat juga disebut sebagai cara
pandang seseorang terhadap sesuatu. Setiap individu melihat
dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini
mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami
murid-muridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang
melihat suatu situasi tertentu.
Berkenaan dengan persepsi
ini ada beberapa hal-hal penting yang harus kita perhatikan:
a.
Setiap pelajar melihat dunia berbeda satu dari yang lainnya karena setiap
pelajar memiliki lingkungan yang berbeda. Semua siswa tidak dapat melihat
lingkungan yang sama dengan cara yang sama.
b.
Seseorang menafsirkan lingkungan sesuai dengan tujuan, sikap, alasan,
pengalaman, kesehatan, perasaan dan kemampuannya.
c.
Cara bagaimana seseorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya.
Dalam sesuatu situasi seorang pelajar cenderung
bertindak sesuai dengan cara ia melihat dirinya sendiri.
d.
Para pelajar dapat dibantu dengan cara memberi kesempatan menilai dirinya
sendiri. Guru dapat menjadi contoh hidup. Perilaku yang baik bergantung pada
persepsi yang cermat dan nyata mengenai suatu situasi. Guru dan pihak lain
dapat membantu pelajar menilai persepsinya.
e.
Persepsi dapat berlanjut dengan memberi para pelajar pandangan bagaimana
hal itu dapat dilihat .
f.
Kecermatan persepsi harus sering dicek. Diskusi kelompok dapat dijadikan
sarana untuk mengklasifikasi persepsi mereka.
g.
Tingkat perkembangan dan pertumbuhan para pelajar akan mempengaruhi pandangannya
terhadap dirinya.
4. Prinsip Tujuan
Tujuan harus tergambar
jelas dalam pikiran dan diterima oleh para pelajar pada saat proses belajar
terjadi. Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang dan
mengenai tujuan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a.
Tujuan seharusnya mewadahi kemampuan yang harus dicapai.
b.
Dalam menetapkan tujuan seharusnya mempertimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat
c.
Pelajar akan dapat menerima
tujuan yang dirasakan akan dapat memenuhi kebutuhannya.
d.
Tujuan guru dan murid seyogianya sesuai
e.
Aturan-aturan atau ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat dan
pemerintah biasanya akan mempengaruhi perilaku.
f.
Tingkat keterlibatan pelajar secara aktif mempengaruhi tujuan yang
dicanangkannya dan yang dapat ia capai.
g.
Perasaan pelajar mengenai manfaat dan kemampuannya dapat mempengaruhi
perilaku. Jika ia gagal mencapai tujuan ia akan merasa rendah diri atau
prestasinya menurun.
h.
Tujuan harus ditetapkan dalam rangka memenuhi tujuan yang nampak untuk para
pelajar. Karena guru harus dapat merumuskan tujuan dengan jelas dan dapat
diterima para pelajar.
5.
Prinsip Perbedaan Individual
Proses belajar bercorak
ragam bagi setiap orang. Proses pengajaran seharusnya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi
kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya.
Pengajaran yang hanya
memperhatikan satu tingkatan sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh
siswa. Karena itu seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi,
dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan
tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut.
6.
Prinsip Transfer dan Retensi
Belajar dianggap
bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam
situasi baru.
Apa pun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan
dalam situasi yang lain. Prosesa tersebut dikenal dengan proses transfer,
kemampuan seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.
Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam
situasi baru.
7.
Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif
melibatkan proses pengenalan dan atau penemuan. Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep,
penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya
membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan
aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif. Proses belajar
itu dapat terjadi pada berbagai tingkat kesukaran dan menuntut berbagai
aktivitas mental.
8.
Prinsip Belajar Afektif
Proses belajar afektif
seseorang menentukan bagaimana ia
menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru. Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam
banyak hal pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses
belajar afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari sikap,
emosi dorongan, minat dan sikap individu.
9.
Proses Belajar Psikomotor
Proses belajar psikomotor
individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik. Berkenaan dengan hal
itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
10.
Prinsip Evaluasi
Jenis cakupan dan
validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan selanjutnya. Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji
kemajuan dalam pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya
dipengaruhi oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu
mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang
berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya
dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai
pengalamannya.
C.
Teori – teori dan hukum belajar
Teori belajar
behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman[[6]].
Belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon
(Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting
adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah
apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi
atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan
karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah
stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus
dapat diamati dan diukur.
Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab
pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya
perubahan tingkah laku tersebut.
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat
pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.
Jadi perubahan
tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat
diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran
behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan
bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike
ini disebut pula dengan teori
koneksionisme (Slavin,
2000).
Ada 8 hukum
belajar menurut Thorndike antara lain[[7]] :
1.
Hukum
kesiapan (low of readiness)
Hukum keeiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu
tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi
cenderung diperkuat.
2.
Hukum
latihan (low of exercise)
Yaitu semakin sering tingkah laku tersebut diulang/ dilatih /
digunakan ,maka tingkah laku tersebut semakin kuat atau semakin dikuasai.
Contohnya suatu pelajaran sering diulang-ulang maka akan semakin dikuasai.
3.
Hukum
akibat (low of effect)
Hukum akibat adalah hubungan stimulus dan respon cenderung
diperkuat jika akibatnya memuaskan / baik / menyenangkan, dan cenderung
ditinggalkan jika akibatnya buruk/tidak menyenagkan.
4.
Hukum
reaksi bervariasi (multiple responses)
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial
and error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh
respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
5.
Hukum
sikap ( attitude)
Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya
ditentukan oleh hubungan stimulus respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan
yang ada dalam diri individu baik kognitif , emosi, sosial, maupun psikomotor.
6.
Hukum
aktivitas berat sebelah (prepotency of element)
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan
respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap
keseluruhan situasi (respon selektif)
7.
Hukum
respon by Analogy
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada
situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat
menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah
dialami sehingga terjadi perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal kesituasi
baru. Semakin banyak unsure yang sama maka transper akan semakin mudah.
8.
Hukum
perpindahan asosiasi (Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang
dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara
menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur
lama.
Teori belajar menurut islam
[[8]]Menurut
Al-Qur’an bahwa kemampuan belajar merupakan sebuah karunia Allah SWT, disamping
nikmat persepsi dan berfikir , manusia dibekali pula dengan kesiapan alamiah
untuk belajar serta memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan dan keahlian.
Dengan belajar manusia diberikan kemampuan
lebih, yang dapat membedakannya dengan makhluk Allah yang lain. Karena dengan
belajar manusia dapat mencapai kesempurnaan insane yang luar biasa. Allah
menganugrahkan akal kepada manusia untuk
mampu belajar dan menjadi pemimpin didunia (khalifatullah fil arhd)
Dalam Al-Qur’an , kata al-ilm dan
turunannya berulang sebanyak 780 kali. Sebagaimana yang termaktub dalam wahyu
yang pertama turun kepada Rasulullah saw, yakni ayat 1-5, “Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam, Dia mengajar kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memandang
bahwa aktivitas belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Kegiatan belajar dapat berupa menyampaikan, menela’ah, mencari, dan mengkaji, serta meneliti. Arti penting
belajar menurut Al-Qur’an:
1.
Bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu
yang dapat digunakan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya
dikehidupan dunia.
2.
Manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang
dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan
akan apa yang dilakukannya, karena setiap apa yang mereka perbuat akan dimintai
pertanggungjawabannya.
3.
Dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat
derajatnya di mata Allah.
Cara belajar
menurut Al-Qur’an :
1.
Belajar dengan meniru
Diawal perkembangannya, seorang bayi meniru
orang tuanya dan orang-orang yang berada didekatnya. Misalnya dia belajar
berbicara dari orang – orang
terdekatnya. Didalam Al-Qur’an terdapat contoh belajar dengan cara
meniru, yaitu Surah Al-Maidah ayat 31 yang menjelaskan tentang Qabil membunuh
saudaranya Habil, dan kemudian tidak tahu bagaimana cara menguburkannya, maka
Allah mengirim burung gagak yang mengggali tanah untuk mengubur burung gagak
lain yang telah mati. ”kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak
menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana
seharusnya menguburkan mayat saudaranya. berkata Qabil: "Aduhai celaka
Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat
menguburkan mayat saudaraku ini?" karena itu jadilah Dia seorang diantara
orang-orang yang menyesal”.
Karena secara fitrah dan naluriah manusia
belajar dengan cara meniru, Nabi
Muhammad saw adalah teladan kita , kita wajib meniru segala sesuatu mulai dari
sifat, perbuatan dan semuanya, karena dalam diri Rasulullah terdapat teladan
yang baik.
2. Pengalaman praktis dan trial and error.
Manusia juga belajar dengan cara menghadapi dan
mencoba mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan ini melalui pengalaman
praktis dan trial and error atau coba-coba, terkadang kita melakukan
respon yang keliru terhadap suatu peristiwa baru yang dihadapi, terkadang juga
memberikan respon yang tepat.
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang telah memacu
manusia untuk mengadakan perjalanan di muka bumi, serta mengambil dan
memikirkan ayat-ayat Allah. Al-Qur’an mengajak manusia untuk mengadakan
observasi terhadap berbagai objek, pengalaman praktis dalam kehidupan dan juga
melalui berbagai interaksi dengan alam sekitar kita.
3. Berfikir
Berfikir merupakan salah satu pilihan manusia
untuk memperoleh informasi. Dengan berfikir manusia dapat belajar dengan
melakukan trial and error secara intelektual. Dengan berfikir kita dapat
memilah, memilih, mempertimbangkan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan.
Oleh karena itu, para psikolog mengatakan bahwa berfikir merupakan proses
belajar yang paling tinggi.
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang memerintahkan
manusia untuk selalu menggunakan akal dan memahami dan merenungi segala ciptaan
dan kebesaran Allah di alam ini, antara lain QS.Al-Ghasyiah ayat 17-20, QS.Qaf
ayat 6-10, QS. Al-An’am ayat 95, QS.Al-Anbiya ayat 66-67.
Selanjutnya salah satu metode yang dapat
memperjelas dan memahami sebuah pemikiran seseorang adalah dengan mengadakan
diskusi, dialog, konsultasi, dan berkomunikasi dengan orang lain (Utsman Najati,
2005). Utsman Najati menyatakan bahwa aktivitas berfikir manusia tidak selalu
menghasilkan pemikiran yang benar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap akibat dari
suatu pengalaman atau rangsangan yang didapatnya. Bentuk-bentuk belajar antara
lain belajar abstrak , belajar keterampilan, belajar sosial, belajar pemecahan
masalah, belajar rasioanal, belajar kebiasaan, belajar apersiasi, dan belajar
pengetahuan.
Dalam belajar terdapat prinsip-prinsip belajar antara lain prinsip kesiapan, prinsip motivasi, prinsip persepsi, prinsip tujuan, prinsip perbedaan individual, prinsip transfer dan
retensi, prinsip belajar kognitif, prinsip belajar afektif, proses belajar psikomotor,dan prinsip evaluasi.
Teori belajar
banyak dikemukakan oleh Thorndike yang berkaitan tentang stimulus dan respon,
hukum belajar yang dijelaskan oleh thorndike ada 8 yaitu hukum kesiapan, hukum latihan, hukum akibat, hukum reaksi
bervariasi, hukum sikap, hukum aktivitas berat sebelah, hukum respon by
analogy, dan hukum perpindahan asosiasi.
Dalam Al-Qur’an juga banyak dijelaskan tentang teori belajar ,dalam
Al-Qur’an belajar merupakan karunia dari Allah swt, dalam Al-Qur’an dijelaskan
cara-cara manusia belajar yaitu belajar dengan
meniru, pengalaman praktis dan trial and error,
serta berfikir
B.
Saran
Mari kita
tingkatkan lagi belajar kita agar kehidupan ini lebih baik, dengan belajar kita
tidak tertinggal dari orang lain. Setelah itu mari kita tingkatkan akademik
kita sebagai bekal untuk menjadi seorang guru dan menghadapi peserta didik.
DAFTAR
PUSTAKA
Gunawan,Heri, Kurikulum
dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 2012, Bandung: Alfabeta.
Rothwell, A.B., Learning
Principles, dalam Clark L.H. Strategies and Tactics in secondary School
Teaching: A Book of Readings, Toronto: the Mac Millan, Co., 1968.
Gage, N.L.,
& Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition,
Chicago: Rand Mc. Nally
http://jeperis.wordpress.com/2009/01/21/prinsip-prinsip-belajar-dan-pembelajaran/
[1] Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam, 2012, Bandung: Alfabeta, Hlm. 104
[2] Ibid
hlm.104-105
[3] Ibid
hlm.105-108
[4] http://tioxcreation.blogspot.com/2012/05/bentuk-bentuk-belajar.html
[5] Rothwell, A.B., Learning Principles, dalam Clark
L.H. Strategies and Tactics in secondary School Teaching: A Book of Readings,
Toronto: the Mac Millan, Co., 1968.
[6] Gage, N.L., & Berliner,
D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
[7]
Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, 2012, Bandung: Alfabeta. Hal.129-131
[8], Ibid hal. 133
Tidak ada komentar:
Posting Komentar