Sabtu, 07 Desember 2013

belajar dan pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dunia pendidikan erat kaitannya dengan belajar, seorang guru yang baik adalah guru yang dapat memahami bagaimana peserta didiknya, memahami situsi dan kondisi lingkungan. Meskipun seorang guru pintar secara kognitif namun tidak bisa memahami anak didiknya , belajar dikelas tidak akan berhasil.
Seorang murid mempunyai pribadi yang berbeda-beda sehingga dibutuhkan suatu talenta seorang guru yang mengerti dengan situasi dan prinsip-prinsip belajar. Dalam belajar terdapat berbagai bentuk belajar, teori-teori, hukum-hukum dan prinsip-prinsip  belajar, yang menuntut seorang guru harus mengetahui, memahami anak didiknya, agar pembelajaran berhasil.
Belajar meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik yang ketiganya harus berjalan seimbang agar belajar tidak pincang dan menyimpang.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian belajar ?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk belajar?
3.      Apa prinsip-prinsip belajar?
4.      Apa teori-teori dan hukum belajar?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk mempelajari tentang teori-teori, prinsip-prinsip, bentuk dan hukum-hukum belajar yang akan menjadi bekal persiapan menjadi seorang guru, sehingga setelah membahas makalah ini kita bisa mengetahui dan mengembangkan serta memahami perkembangan peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian dan Bentuk – Bentuk Belajar
1.      Pengertian Belajar
Kata belajar secara etimologi merupakan terjemahan dari kata learning (bahasa inggris)[[1]]. Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku individu.  Para ahli pendidikan berbeda pendapat dengan definisi pendidikan antara lain[[2]] :
a.       Thompson (1970) menyebutkan belajar adalah perubahan prilaku yang relative menetap sebagai hasil dari pengalaman.
b.      Moh. Surya (1997) menyebutkan, belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan prilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
c.       Crow & Crow (1958) menyebutkan belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru.
d.      Hilgard (1962) menyatakan belajar adalah proses dimana suatu prilaku muncul, prilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap suatu situasi.
e.       Sardiman (2005:47) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
f.       Syah (2006) berpendapat bahwa belajar adalah tahapan prubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Dari beberapa pendapat para ahli pendidikan diatas terdapat suatu persamaan, yaitu “ perubahan perilaku ”. Jadi dapat dikatakan belajar apabila jika didalamnya terdapat proses perubahan tingkah laku. Surya (1997) dalam salah satu tulisannya menyebutkan beberapa ciri dari perubahan perilaku, yaitu sebagai berikut[[3]] :
a.       Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)
Perubahan perilaku individu yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasilnya, individu tersebut menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Seperti pengetahuannya bertambah atau keterampilannya semakin meningkat jika dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar.
Misalnya seorang mahasiswa sedang mempelajari mata kuliah strategi pembelajaran, dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang strategi pembelajaran. Setelah belajar strategi pembelajaran dia menyadari bahwa didalam dirinya telah terjadi perubahan prilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berhubungna dengan strategi pembelajaran.

b.      Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya adalah merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Pengetahuan atau keterampilan yang telah diperoleh menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan berikutnya.

c.       Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan baik untuk kepentingan sekarang maupun akan datang. Misalnya seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilan dalam psikologi dapat dimanfaatkannya untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru
d.      Perubahan yang bersifat positif
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menunjukkan kearah kemajuan. Misalnya seorang karyawan setelah mengikuti pengarahan diperusahaannya, menjadi lebih berkualitas pekerjaannya.
e.       Perubahan yang bersifat aktif
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya seorang koki ingin membuat resep baru, jadi dia berusaha melakukan percobaan, penelitian dan sebagainya agar resepnya berhasil.
f.       Perubahan yang bersifat permanen.
Perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap (permanen) dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya seseorang yang pernah belajar komputer, maka keterampilan penguasaan computer yang didapatkan akan menetap dan melekat pada orang itu.
g.      Perubahan yang bertujuan dan terarah
Individu yang melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapainya , baik tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
h.      Perubahan perilaku yang menyeluruh
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya.

2.      Bentuk – Bentuk Belajar
Menurut Muhibbin Syah, bentuk-bentuk belajar yang umum dijumpai dalam proses pembelajaran antara lain adalah:[[4]]
a.       Belajar abstrak
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.
b.      Belajar keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yaitu yang berhubungan dengan urat-urat syaraf. Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.
c.       Belajar Sosial
Belajar sosial adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial.
d.      Belajar Pemecahan Masalah
Belajar  pemecahan masalah adalah belajar menggunakan metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognetif untuk memecahkan masalah secara rasioanal, lugas, dan tuntas
e.       Belajar rasioanal
Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan sistematis. Tujuannya ialah untuk memperoleh berbagai kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
f.       Belajar kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras secara kontekstual, serta selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku.

g.      Belajar apersiasi
Belajar apersiasi adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah afektif yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apersiasi musik, dan sebagainya.
h.      Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya.
B.     Prinsip – prinsip dalam belajar
Rothwal (1961) mengemukakan prinsip-prinsip belajar yang (1961) sebagai berikut[[5]]:
1.      Prinsip Kesiapan (Readines)
Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan adalah kondisi murid (individu) yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini adalah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar  belakang  pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
Berdasarkan dengan prinsip kesiapan ini dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
a.       Seorang individu akan dapat belajar dengan sebaik-baiknya bila tugas-tugas yang diberikan kepadanya erat hubungannya dengan kemampuan, minat dan latar belakangnya.
b.      Seorang guru harus bisa mengkaji atau menduga kesiapan muridnya, salah satunya dengan melakukan tes kesiapan.
c.       Jika seseorang individu kurang memiliki kesiapan untuk sesuatu tugas, kemudian tugas itu seharusnya ditunda sampai dapat dikembangkannya kesiapan itu atau guru sengaja menata tugas itu sesuai dengan kesiapan siswa.
d.      Kesiapan untuk belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan, misalnya dua orang siswa yang memiliki kecerdasan yang sama mungkin amat berbeda dalam pola kemampuan mentalnya.
e.       Bahan-bahan, kegiatan dan tugas seharusnya divariasikan sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotor dari berbagai individu.

2.      Prinsip Motivasi (Motivation)
Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak.
Berkenaan dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikanan antara lain :
a.       Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan biologi, soaial dan emosional. Tetapi disamping itu ia dapat diberi dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini.
  1. Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha. Pengalaman tentang kegagalan yang tidak merusak citra diri siswa dapat memperkuat kemampuan memelihara kesungguhannya dalam belajar.
  2. Dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi para siswa. Contohnya seorang murid yang mengharapkan bantuan dari gurunya bisa berubah lebih dari itu, karena kebutuhan emosi terpenuhi daripada karena keinginan untuk mencapai seauatu.
  3. Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah.
  4. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Kegagalan dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi tergantung pada berbagai faktor. Tidak bisa setiap siswa diberi dorongan yang sama untuk melakukan sesuatu.
  5. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
  6. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku.
  7. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar.
  8. Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan.
  9. Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan.
  10. Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi.
3.      Prinsip Persepsi
Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Persepsi dapat juga disebut sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami murid-muridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu.
Berkenaan dengan persepsi ini ada beberapa hal-hal penting yang harus kita perhatikan:
a.       Setiap pelajar melihat dunia berbeda satu dari yang lainnya karena setiap pelajar memiliki lingkungan yang berbeda. Semua siswa tidak dapat melihat lingkungan yang sama dengan cara yang sama.
b.      Seseorang menafsirkan lingkungan sesuai dengan tujuan, sikap, alasan, pengalaman, kesehatan, perasaan dan kemampuannya.
c.       Cara bagaimana seseorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya. Dalam sesuatu situasi seorang pelajar cenderung bertindak sesuai dengan cara ia melihat dirinya sendiri.
d.      Para pelajar dapat dibantu dengan cara memberi kesempatan menilai dirinya sendiri. Guru dapat menjadi contoh hidup. Perilaku yang baik bergantung pada persepsi yang cermat dan nyata mengenai suatu situasi. Guru dan pihak lain dapat membantu pelajar menilai persepsinya.
e.       Persepsi dapat berlanjut dengan memberi para pelajar pandangan bagaimana hal itu dapat dilihat .
f.       Kecermatan persepsi harus sering dicek. Diskusi kelompok dapat dijadikan sarana untuk mengklasifikasi persepsi mereka.
g.      Tingkat perkembangan dan pertumbuhan para pelajar akan mempengaruhi pandangannya terhadap dirinya.
4. Prinsip Tujuan
Tujuan harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh para pelajar pada saat proses belajar terjadi. Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang dan mengenai tujuan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a.       Tujuan seharusnya mewadahi kemampuan yang harus dicapai.
b.      Dalam menetapkan tujuan seharusnya mempertimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat
c.       Pelajar akan dapat menerima tujuan yang dirasakan akan dapat memenuhi kebutuhannya.
d.      Tujuan guru dan murid seyogianya sesuai
e.       Aturan-aturan atau ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat dan pemerintah biasanya akan mempengaruhi perilaku.
f.       Tingkat keterlibatan pelajar secara aktif mempengaruhi tujuan yang dicanangkannya dan yang dapat ia capai.
g.      Perasaan pelajar mengenai manfaat dan kemampuannya dapat mempengaruhi perilaku. Jika ia gagal mencapai tujuan ia akan merasa rendah diri atau prestasinya menurun.
h.      Tujuan harus ditetapkan dalam rangka memenuhi tujuan yang nampak untuk para pelajar. Karena guru harus dapat merumuskan tujuan dengan jelas dan dapat diterima para pelajar.

5.         Prinsip Perbedaan Individual
Proses belajar bercorak ragam bagi setiap orang. Proses pengajaran seharusnya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya.
Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut.

6.         Prinsip Transfer dan Retensi
Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru. Apa pun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain. Prosesa tersebut dikenal dengan proses transfer, kemampuan seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi. Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam situasi baru.

7.         Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan atau penemuan. Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif. Proses belajar itu dapat terjadi pada berbagai tingkat kesukaran dan menuntut berbagai aktivitas mental.

8.         Prinsip Belajar Afektif
Proses belajar afektif seseorang menentukan bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru. Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam banyak hal pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses belajar afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari sikap, emosi dorongan, minat dan sikap individu.

9.         Proses Belajar Psikomotor
Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik. Berkenaan dengan hal itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

10.     Prinsip Evaluasi
Jenis cakupan dan validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan selanjutnya. Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya dipengaruhi oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai pengalamannya.

C.    Teori – teori dan hukum belajar
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman[[6]].
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
 Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.
Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada 8 hukum belajar menurut Thorndike antara lain[[7]] :
1.      Hukum kesiapan (low of readiness)
Hukum keeiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
2.      Hukum latihan (low of exercise)
Yaitu semakin sering tingkah laku tersebut diulang/ dilatih / digunakan ,maka tingkah laku tersebut semakin kuat atau semakin dikuasai. Contohnya suatu pelajaran sering diulang-ulang maka akan semakin dikuasai.
3.      Hukum akibat (low of effect)
Hukum akibat adalah hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat jika akibatnya memuaskan / baik / menyenangkan, dan cenderung ditinggalkan jika akibatnya buruk/tidak menyenagkan.
4.      Hukum reaksi bervariasi (multiple responses)
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial and error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
5.      Hukum sikap ( attitude)
Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif , emosi, sosial, maupun psikomotor.
6.      Hukum aktivitas berat sebelah (prepotency of element)
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif)
7.      Hukum respon by Analogy
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal kesituasi baru. Semakin banyak unsure yang sama maka transper  akan semakin mudah.
8.      Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

Teori belajar menurut islam
[[8]]Menurut Al-Qur’an bahwa kemampuan belajar merupakan sebuah karunia Allah SWT, disamping nikmat persepsi dan berfikir , manusia dibekali pula dengan kesiapan alamiah untuk belajar serta memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan dan keahlian.
Dengan belajar manusia diberikan kemampuan lebih, yang dapat membedakannya dengan makhluk Allah yang lain. Karena dengan belajar manusia dapat mencapai kesempurnaan insane yang luar biasa. Allah menganugrahkan akal kepada  manusia untuk mampu belajar dan menjadi pemimpin didunia (khalifatullah fil arhd)
Dalam Al-Qur’an , kata al-ilm dan turunannya berulang sebanyak 780 kali. Sebagaimana yang termaktub dalam wahyu yang pertama turun kepada Rasulullah saw, yakni ayat 1-5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,  yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memandang bahwa aktivitas belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berupa menyampaikan, menela’ah, mencari,  dan mengkaji, serta meneliti. Arti penting belajar menurut Al-Qur’an:
1.      Bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya dikehidupan dunia.
2.      Manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya, karena setiap apa yang mereka perbuat akan dimintai pertanggungjawabannya.
3.      Dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah.
Cara belajar menurut Al-Qur’an :
1.      Belajar dengan meniru
Diawal perkembangannya, seorang bayi meniru orang tuanya dan orang-orang yang berada didekatnya. Misalnya dia belajar berbicara dari orang – orang  terdekatnya. Didalam Al-Qur’an terdapat contoh belajar dengan cara meniru, yaitu Surah Al-Maidah ayat 31 yang menjelaskan tentang Qabil membunuh saudaranya Habil, dan kemudian tidak tahu bagaimana cara menguburkannya, maka Allah mengirim burung gagak yang mengggali tanah untuk mengubur burung gagak lain yang telah mati. ”kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. berkata Qabil: "Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" karena itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal”.
Karena secara fitrah dan naluriah manusia belajar dengan cara meniru,  Nabi Muhammad saw adalah teladan kita , kita wajib meniru segala sesuatu mulai dari sifat, perbuatan dan semuanya, karena dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik.

2.      Pengalaman praktis dan trial and error.
Manusia juga belajar dengan cara menghadapi dan mencoba mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan ini melalui pengalaman praktis dan trial and error atau coba-coba, terkadang kita melakukan respon yang keliru terhadap suatu peristiwa baru yang dihadapi, terkadang juga memberikan respon yang tepat.
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang telah memacu manusia untuk mengadakan perjalanan di muka bumi, serta mengambil dan memikirkan ayat-ayat Allah. Al-Qur’an mengajak manusia untuk mengadakan observasi terhadap berbagai objek, pengalaman praktis dalam kehidupan dan juga melalui berbagai interaksi dengan alam sekitar kita.

3.      Berfikir
Berfikir merupakan salah satu pilihan manusia untuk memperoleh informasi. Dengan berfikir manusia dapat belajar dengan melakukan trial and error secara intelektual. Dengan berfikir kita dapat memilah, memilih, mempertimbangkan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu, para psikolog mengatakan bahwa berfikir merupakan proses belajar yang paling tinggi.
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan akal dan memahami dan merenungi segala ciptaan dan kebesaran Allah di alam ini, antara lain QS.Al-Ghasyiah ayat 17-20, QS.Qaf ayat 6-10, QS. Al-An’am ayat 95, QS.Al-Anbiya ayat 66-67.
Selanjutnya salah satu metode yang dapat memperjelas dan memahami sebuah pemikiran seseorang adalah dengan mengadakan diskusi, dialog, konsultasi, dan berkomunikasi dengan orang lain (Utsman Najati, 2005). Utsman Najati menyatakan bahwa aktivitas berfikir manusia tidak selalu menghasilkan pemikiran yang benar.






















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap akibat dari suatu pengalaman atau rangsangan yang didapatnya. Bentuk-bentuk belajar antara lain belajar abstrak , belajar keterampilan, belajar sosial, belajar pemecahan masalah, belajar rasioanal, belajar kebiasaan, belajar apersiasi, dan belajar pengetahuan.
Dalam belajar terdapat prinsip-prinsip belajar antara lain prinsip kesiapan, prinsip motivasi, prinsip persepsi, prinsip tujuan, prinsip perbedaan individual, prinsip transfer dan retensi, prinsip belajar kognitif, prinsip belajar afektif, proses belajar psikomotor,dan prinsip evaluasi.
Teori belajar banyak dikemukakan oleh Thorndike yang berkaitan tentang stimulus dan respon, hukum belajar yang dijelaskan oleh thorndike ada 8 yaitu hukum kesiapan, hukum latihan, hukum akibat, hukum reaksi bervariasi, hukum sikap, hukum aktivitas berat sebelah, hukum respon by analogy, dan hukum perpindahan asosiasi.
Dalam Al-Qur’an juga banyak dijelaskan tentang teori belajar ,dalam Al-Qur’an belajar merupakan karunia dari Allah swt, dalam Al-Qur’an dijelaskan cara-cara manusia belajar yaitu  belajar dengan meniru, pengalaman praktis dan trial and error, serta berfikir
B.       Saran
Mari kita tingkatkan lagi belajar kita agar kehidupan ini lebih baik, dengan belajar kita tidak tertinggal dari orang lain. Setelah itu mari kita tingkatkan akademik kita sebagai bekal untuk menjadi seorang guru dan menghadapi peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA


Gunawan,Heri, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 2012, Bandung: Alfabeta.
Rothwell, A.B., Learning Principles, dalam Clark L.H. Strategies and Tactics in secondary School Teaching: A Book of Readings, Toronto: the Mac Millan, Co., 1968.
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
http://jeperis.wordpress.com/2009/01/21/prinsip-prinsip-belajar-dan-pembelajaran/




[1] Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 2012, Bandung: Alfabeta, Hlm. 104
[2] Ibid hlm.104-105
[3] Ibid hlm.105-108
[4] http://tioxcreation.blogspot.com/2012/05/bentuk-bentuk-belajar.html
[5]  Rothwell, A.B., Learning Principles, dalam Clark L.H. Strategies and Tactics in secondary School Teaching: A Book of Readings, Toronto: the Mac Millan, Co., 1968.
[6] Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally
[7] Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 2012, Bandung: Alfabeta. Hal.129-131
[8], Ibid  hal. 133

Tidak ada komentar:

Posting Komentar